Belajar Dari Keceriaan Anak-anak
Memori masa kanak-kanak begitu menyenangkan untuk diingat. Sedari kecil, setiap minggu, my mum ajak saya dan kakak lelaki saya berenang di salah satu Hotel Jakarta "Kartika Plaza"untuk berenang dan ini benar-benar menghibur dan memberikan kesenangan.
Di sekolah juga ada ekstrakurikuler berenang dan saya paling senang belajar gaya bebas dan gaya katak. Paling senang kalau ada pertandingan dan namanya anak-anak merasa senang kalau bisa "lebih" dari yang lain. Dan saya ingat, selesai berenang, sudah ada my mum siap dengan handuk dan sekotak nasi dan ayam kentucky boongan, lalu dengan tubuh lelah dan lapar, saya makan dengan lahapnya.Yes, ada my mum dan ada my brother kita berenang bareng dan enjoy our time together. dan saya dan my brother sering adu tahan nafas di dalam kolam renang. Dan sesekali saya akan berenang di atas punggung my mum untuk menuju ke kolam sedalam 2 meter.
Pelampung menjadi teman awal belajar berenang dulu dan kalau liat pelampung ada kesenangan yang muncul, jadi ingat memori waktu dulu pertama kali belajar berenang. Betapa pelampung bebek-bebekan menjadi pelampung penuh kesan untuk diingat.
Setelah lelah berenang, my mum will take me to KFC gajah Mada dan makan paket ayam dan nasi nyam nyam nyam...sebelum berenang, kita ke vihara dulu berdoa (terpaksa) my mum memaksa saya dan my bro untuk doa dulu, dijanjikan setelah doa bisa langsung berenang, lalu abis berenang makan KFC...dan itu berlangsung bertahun-tahun. saking sebel, karna harus naik bus kota, saya dan my bro sering beraksi memboikot kegiatan doa di vihara dan tempertantrum, ngambek, liat jam terus dan terus minta segera pergi dari vihara dan segera berenang dan terus menagih janji ke my mum.
Waktu zaman SD, permen ini ngetop banget dan di dalam bungkusannya ada tulisan atau hadiah tertentu, dulu harganya berapa yah, saya lupa, 100 rupiah dapet 3 buah. dan tiap jam istirahat langsung makan permen karet bikin balon dan yang bisa bikin balon besar, itulah yang jago.
Di masa kecil, mainan ini pun jadi favorit saya. walau ga tau cara maininnya tapi liat mainan ini mengingatkan saya akan memori bahagia waktu masih anak-anak. waktu masih kecil ga ada beban, enjoy life, bermain dan bersenang-senang dan berusaha untuk selalu ceria setiap saat. Ini sesuai dengan hasil penelitian :
Joan Coggin, M.D., seorang kardiolog di University School of Medicine, Loma Linda, Amerika Serikat, anak-anak rata-rata tertawa 400 kali dalam sehari. Sedang orang dewasa rata-rata hanya tertawa 15 kali saja sehari.Itu berarti manusia dewasa kehilangan 385 tawa seiring dengan bertambahnya umur.
Kalau mau dirangkum, keceriaan masa kanak-kanak saya adalah ketika bermain, berenang, dan ketika bisa berenang dan makan KFC selesai berenang, dengan badan serba lelah dan lapar, lalu my mum ajak saya dan my bro makan KFC dan window shopping di mall. a very nice memory to remember...
Dan setiap kali mengingat kembali memori indah di masa kecil, emosi jadi lebih positif dan Budha always said that we must maintain positive memory in our mind, pikiran begitu liar, sehingga bisa berubah setiap saat, so kegiatan nostalgia masa kecil, bisa jadi salah satu aktivitas positif yang menyehatkan pikiran.
Regards,
Maeya
Jumat, 31 Oktober 2008
Selasa, 22 Juli 2008
A Tough Love
Pernah dengar istilah "tough love"? Mencintai dengan cara yang agak keras dan tidak dengan kelembutan. Mother daughter relationship mengajarkan saya banyak hal soal Tough Love...
Dulu saya bertanya, kenapa seorang ibu kadang justru menjadi sosok yang begitu keras dan mengerikan, dan kadang - maaf - kejam. Padahal surga ada di bawah telapak kaki ibu ...
Satu perenungan yang saya peroleh adalah : "selalu ada alasan dari segala kejadian yang ada dalam hidup ini" Kenapa harus mendapat perlakuan keras dari orang terdekat, dan ini seorang ibu yang dulu melahirkan kita. Dan tak jarang, ada keluar kata-kata dari ibu : "...kalau tau begini, mending ibu ga lahirin kamu ke dunia ini!..." Itu biasanya kalau puncaknya sudah tinggi, dan ibu sudah tidak bisa menahan emosi kesal lagi.
Kalau dengar percakapan ibu-ibu, akan terdengar hal-hal ini :
1. Capek deh, tuh anak nggak bisa diatur, suka ngelawan aja.
2. Coba kalau anak saya seperti anak kamu yah, Jeng.
3. Kalau saya ngomong A, pasti deh nih anak bilangnya B, nggak pernah dia mau dengerin, selalu ada ngelawan.
4. Yah, kita kan orang tua udah makan asam garam kehidupan, udah deh percaya aja, jangan melawan.
Di sisi lain, ada ungkapan anak-anaknya yang menuntut :
1. Saya kan punya pendapat juga, kenapa pendapat saya harus selalu sama dengan mama.
2. OK deh, orang tua yang selalu bener. Kalaupun orang tua salah, anak akan tetap dipersalahkan, dengan alasan : "ya namanya juga orang tua, kan pendidikan lebih bodoh dibandingkan si anak"
Sebelum terjun ke masyarakat, kalau sudah sering menghadapi situasi sulit, contoh : bertarung dengan orang yang kita sayangi, karakter akan terlatih untuk lebih tangguh dan siap sedia dengan kesulitan selanjutnya yang lebih berat dan lebih menguras energi.
But still, ilmu pendidikan sudah maju, kalau dulu, seorang ibu memukul anaknya dianggap lumrah. Hasil penelitian pun sudah menunjukkan betapa efek negatif akan dirasakan oleh anak-anak yang dididik dengan kekerasan. Bahwa kekerasan bukanlah mendidik, bahwa pola didik yang memaksakan kehendak, hanya akan menyisakan kesedihan dan kemarahan. Dan ini berarti seorang anak pun berhak untuk menentukan batas sampai mana perlakukan orang tua. Seorang anak berhak menjaga dirinya sebagai manusia yang utuh ketika orang tua sudah melecehkan dirinya.
mau tau lebih jauh? Baca deh buku berjudul "Boundaries"
Dulu saya bertanya, kenapa seorang ibu kadang justru menjadi sosok yang begitu keras dan mengerikan, dan kadang - maaf - kejam. Padahal surga ada di bawah telapak kaki ibu ...
Satu perenungan yang saya peroleh adalah : "selalu ada alasan dari segala kejadian yang ada dalam hidup ini" Kenapa harus mendapat perlakuan keras dari orang terdekat, dan ini seorang ibu yang dulu melahirkan kita. Dan tak jarang, ada keluar kata-kata dari ibu : "...kalau tau begini, mending ibu ga lahirin kamu ke dunia ini!..." Itu biasanya kalau puncaknya sudah tinggi, dan ibu sudah tidak bisa menahan emosi kesal lagi.
Kalau dengar percakapan ibu-ibu, akan terdengar hal-hal ini :
1. Capek deh, tuh anak nggak bisa diatur, suka ngelawan aja.
2. Coba kalau anak saya seperti anak kamu yah, Jeng.
3. Kalau saya ngomong A, pasti deh nih anak bilangnya B, nggak pernah dia mau dengerin, selalu ada ngelawan.
4. Yah, kita kan orang tua udah makan asam garam kehidupan, udah deh percaya aja, jangan melawan.
Di sisi lain, ada ungkapan anak-anaknya yang menuntut :
1. Saya kan punya pendapat juga, kenapa pendapat saya harus selalu sama dengan mama.
2. OK deh, orang tua yang selalu bener. Kalaupun orang tua salah, anak akan tetap dipersalahkan, dengan alasan : "ya namanya juga orang tua, kan pendidikan lebih bodoh dibandingkan si anak"
Sebelum terjun ke masyarakat, kalau sudah sering menghadapi situasi sulit, contoh : bertarung dengan orang yang kita sayangi, karakter akan terlatih untuk lebih tangguh dan siap sedia dengan kesulitan selanjutnya yang lebih berat dan lebih menguras energi.
But still, ilmu pendidikan sudah maju, kalau dulu, seorang ibu memukul anaknya dianggap lumrah. Hasil penelitian pun sudah menunjukkan betapa efek negatif akan dirasakan oleh anak-anak yang dididik dengan kekerasan. Bahwa kekerasan bukanlah mendidik, bahwa pola didik yang memaksakan kehendak, hanya akan menyisakan kesedihan dan kemarahan. Dan ini berarti seorang anak pun berhak untuk menentukan batas sampai mana perlakukan orang tua. Seorang anak berhak menjaga dirinya sebagai manusia yang utuh ketika orang tua sudah melecehkan dirinya.
mau tau lebih jauh? Baca deh buku berjudul "Boundaries"
Senin, 21 Juli 2008
Mama, I Love You
She used to be my only enemy and never let me free,
Catching me in places that I know I shouldn't be,
Every other day I crossed the line,
I didn't mean to be so bad,
I never thought you would
Become the friend I never had
Back then I didn't know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
all that you did was love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
My friend
I didn't want to hear it then but
I'm not ashamed to say it now,
Every little thing you said and did was right for me,
I had a lot of time to think about,
About the way I used to be,
Never had a sense of my responsibility.
Back then I didn't know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
All that you did was love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend, My friend
But now I'm sure I know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
All I can give you is love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
My friend
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
You're my friend
(Repeat to fade)
Catching me in places that I know I shouldn't be,
Every other day I crossed the line,
I didn't mean to be so bad,
I never thought you would
Become the friend I never had
Back then I didn't know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
all that you did was love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
My friend
I didn't want to hear it then but
I'm not ashamed to say it now,
Every little thing you said and did was right for me,
I had a lot of time to think about,
About the way I used to be,
Never had a sense of my responsibility.
Back then I didn't know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
All that you did was love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend, My friend
But now I'm sure I know why,
Why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
All I can give you is love,
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
My friend
Mama I love you, Mama I care,
Mama I love you, Mama my friend,
You're my friend
(Repeat to fade)
Langganan:
Komentar (Atom)
